Mengedepankan Rasa Cinta

Anda akan disuguhi materi-materi menarik tentang apa itu hakikat cinta serta apa fungsi dari cinta dalam kehidupan kita sehari-hari yang mungkin belum kita ketahui.

Kemampuan cinta ini banyak jadikan latar belakang sebagian tokoh-tokoh populer dalam melahirkan karya-karyanya. Umpamanya Kahlil Gibran, Jalaludin Rumi, Ibn Arabi serta sebagian tokoh beda. Untuk mereka kemampuan cinta itu sudah jadikan kehidupannya bak mutiara. Mereka tidak menguber apa pun dalam kehidupan mereka terkecuali cinta yang sudah menarik hatinya.

Kahlil gibran dalam bukunya Sayap-sayap patah (al-ajnihah al-mutakassirah) sempat menyebutkan kalau cinta yaitu satu hal aneh yang sudah datang kepadanya. Untuk saya, cinta yaitu satu rahmat yang dihadiahkan oleh Tuhan yang Maha Pengasih. Yang pasti cinta dihadiahkan supaya terwujud serasi yang indah di alam semesta ini, karna dalam cinta tidak ada yang namanya tidak suka, permusuhan dan hal negatif yang lain. Walau demikian, cinta yaitu unsur positif subyektif seseorang pengidap cinta dalam dianya.

Man ahabba say’an fahuwa abduhu (Barangsiapa menyukai suatu hal, jadi dia juga akan jadi hamba/pembantu/jongosnya). Demikian sangkanya satu deskripsi kecil dari diri seseorang penggemar. Orang yang cinta pada harta, jadi ditiap harinya ia senantiasa repot serta konsentrasi dalam mencari harta itu. Orang yang cinta pangkat, jadi ia juga akan lakukan apa sajakah untuk kemulusan pangkatnya. Tidak jauh-jauh dalam problem pemilu, untuk jabatan yang menginginkan mereka kehendaki, telah wajar sangkanya tiap-tiap pasangan calon juga akan mengorbankan uangnya (money politic) supaya ia dipilih. Beberapa orang arifin yang menyukai Tuhannya, setiap saat mereka seolah-olah tengah bercinta serta pikirkan juga akan Tuhan sang Maha Cinta. Oleh karenanya, dari keterangan di atas, kita dapat lihat deskripsi orang yang terserang perasaan cinta. Ada beberapa orang yang cinta juga akan beberapa hal yang dapat saya katakan temporal serta berkesan negatif. Ada juga orang yang menyukai beberapa hal yang positif serta berguna untuk dianya.

Saya di sini tidak mengulas juga akan saran menyukai hal yang bernilai positif maupun negatif. Walau demikian, saya fokus pada diri seseorang penggemar itu. Mereka saat berlaku dengan perasaan cinta, satu hal apa pun baik itu satu hal yang jelek, jadi ia juga akan tampak baik untuk diri seseorang penggemar. Ia juga akan senantiasa memberi tanggapan positif pada hal yang ia telah cinta kepadanya. Umpamanya orang yang menyukai artis a, jadi ia juga akan memberi satu apologi pada artis itu walau artis itu di mata orang yang lain tampak kurang mengesankan.

Cerita legendaris dari negeri Arab yakni cerita Qais serta Laila mungkin saja dapat kita menjadikan contoh sekali lagi kalau cinta memanglah juga akan buat diri seseorang penggemar tidak berdaya ditawan oleh satu perasaan cinta. Qais selalu menyukai serta menyayangi Laila walau keluarga Laila tidak merestui juga akan hubungan mereka. Tidak cukup cuma darisitu, Qais bahkan tidak kuasa membenci Laila walau pada akhirnya Laila menikah dengan orang yang lain. Ya mungkin saja demikianlah sedikit deskripsi mengenai cinta.

 

Di sini saya merekomendasikan sekalian mengimpikan kondisi di mana seorang, bahkan juga kebanyakan orang didunia ini dapat melihat serta menilainya segalanya yang ia temui dengan cinta. Tidak ada sekali lagi pandangan-pandangan kebencian pada keduanya didunia. Terwujudnya satu rahmat (kasih sayang) antar tiap-tiap manusia, bahkan juga segalanya didunia ini. Antar manusia sama-sama sharing kasih, mereka berkompetisi dengan sehat. Mereka tidak sama-sama menelan hak orang yang lain. Demikianlah sangkanya harapan baik saya.

Asumsi-asumsi ini memanglah pergi dari karut-marutnya dinamika kehidupan hari ini. Manusia dalam bekerja, bertetangga bahkan juga dalam soal beragama, mereka senantiasa melakukan tindakan dzalim keduanya. Mereka meremehkan serta lupa juga akan rasa cinta juga akan orang yang lain. Karna kenikmatan ego, mereka menindas orang yang lain. Dikarenakan kebutuhan pribadi, mereka ikhlas membenci orang yang tidak sama pendapat dengan dianya. Yang bekerja, karna satu pangkat, mereka sama-sama dengki keduanya. Antar sesama tetangga tidak ada sekali lagi sikap perduli. Dalam beragama juga, mereka tidak ada toleransi, sama-sama kafir-mengafirkan pada grup yang berlainan. Kebencian serta kedengkian seperti ini buat umumnya manusia jaman ini tidak mempunyai keyakinan keduanya. Bagaimana ingin yakin, bila keduanya mereka berupaya sama-sama menjatuhkan serta sama-sama berprasangka jelek. Mereka makin lama terjauhkan dari eksistensi manusia tersebut, dalam pengertian kalau manusia sejatinya yaitu makhluk sosial.

Jadi darisitu, perlu sangkanya kita senantiasa memprioritaskan segi Cinta dalam setiap penilaian, langkah pandang serta langkah bergaul keduanya dalam kehidupan bersosial kita. Jauhkan kebencian serta kedengkian dalam diri kita pada orang yang lain yang sejatinya juga akan menyebabkan negatif pada diri kita sendiri.

Dalam berperilaku memprioritaskan visi cinta ini sesungguhnya juga disarankan oleh Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Laa Yu’minu Ahadukum hatta yuhibba liakhihi maa yuhibbu linafisihi” (Tidak beriman seorang di antara kalian hingga ia menyukai saudaranya seperti ia menyukai dianya).

Menarik dengan hadits di atas kalau Rasulullah memberi qarinah dengan menyarankan kesamaan cinta juga akan sendiri dengan cinta pada orang yang lain, bahkan juga hal tersebut jadikan tanda keimanan seorang juga akan Tuhannya. Mungkin saja memanglah sebegitulah ada, karna bila kita sebagian fikir sekali lagi sesungguhnya bila kita melakukan perbuatan baik pada orang yang lain, pastinya orang itu pastinya akan melakukan perbuatan demikian pada diri kita.

Lantas, seandainya hal tersebut dipraktekkan oleh masing-masing individu, tentunya hal tersebut juga akan jadikan keselarasan alam semesta sendiri, yang notabene melindungi keselarasan alam yaitu pekerjaan dari Tuhan untuk beberapa manusia.

Ya mungkin saja searah dengan kata Kahlil Gibran, “Jikalau engkau berperilaku dengan cinta, sesungguhnya engkau berperilaku (untungkan) pada dirimu sendiri, orang yang lain bahkan juga pada Tuhanmu”.

Comments

So empty here ... leave a comment!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sidebar